Eko Hastuti

Menulis bagiku menjadi salah satu sisi kehidupan yang penting. Ibarat orang hidup yang harus bernafas, menulis sebagai oksigen yang memberi kesegaran otak dan h...

Selengkapnya
Srikandi Dieng

Srikandi Dieng

Srikandi Dieng itu sebenarnya tidak ada karena itu hanya julukan. Yah, julukan untukku dari Ibu Raihana Rasyid, gurusianer populer di blog gurusiana. Sejak kapan Bu Nana (panggilan akrabku pada beliau) memberi julukkan itu? Secara pasti aku tidak tahu, Cuma sepertinya sejak kutulis beberapa puisi dan artikel tentang Dieng. Pada awal Juli, cuaca di Wonosobo sangat dingin, hingga puncaknya pada bulan Agustus lalu. Butiran embun berubah bentuk menjadi bun upas atau salju yang terhampar di seluruh lahan pertanian di Dieng. Termasuk air jernih yang mengalir di pancuran pun sempat membeku. Pokoknya Dieng saat itu sungguh fenomenal. Berduyun-duyun wisatawan domestik maupun manca negara berkunjung ke Dieng. Dieng yang penuh misteri dalam berbalut nuansa magis dan mistis, serasa menghipnotis pengunjung. Candinya, kawahnya, kabutnya, telaganya, tanaman kentang dan carica, curug, sumur, cuaca yang terus meredup, dan keunikkan lainnya tak disangsikan pesonanya.

Memang aku suka dengan alam seisinya ini. Di mataku, apa pun yang nampak itu begitu indah ketika belum terjamah oleh tangan-tangan jahil yang tidak bertanggungjawab. Lebih-lebih nuansa alam perawan, wou..pesonanya luar biasa. Semua itu wujud keagungan Tuhan yang tak tertandingi oleh siapa pun. Bila dicermati dan dikaji secara mendalam, semua mengandung pelajaran hidup. Keindahannya tak cukup disyukuri tapi juga dinikmati dan disuarakan untuk memberi tanda bagi yang suka. Apa yang ada dijadikan pengingat bagi sebagian orang yang terlena dan lupa. Bahwa semua itu harus dijaga dan dipelihara, dilestarikan, dan digunakan sebaik-baiknya demi kemakmuran bersama. Tak mudah menyuarakan kenyataan, tak mudah menegakkan kebenaran di tegah caruk maruk ide yang kadang berbenturan. Itu perjuangan dan pengurbanan yang tidak mudah, perlu nyali besar untuk berkata benar. Kepedulian adalah upaya menuju ke jalan kebenaran yang perlu ketegaran.

Bisa jadi alasan itu yang membuat Bu Nana, menjulukiku begitu. Srikandi hanya melambangkan wanita. Namun, bukan karena kiprahnya seperti salah satu tokoh pewayangan (perempuan) yang berani menegakkan kebenaran, tangkas, dan trengginas di medan laga. Srikandi, putri kedua dari Prabu Drupada dengan Dewi Gandarwati di negeri Pancawala. Srikandi yang kesohor di dunia pewayangan ini benar-benar luar biasa, selain pandai memanah, suka ilmu kanuragan, berani menegakkan kebenaran, dan dijadikan teladan bagi para prajurit wanita. Sekali lagi tentu bukan itu alasannya, Bu Nana memberi julukan begitu.

Oh ya, bisa jadi karena aku mengelola perpustakaan desa “Srikandi” yang keseluruhan pengelolanya perempuan. Sering aktivitas di perpustakaan Srikandi kuposting di blog gurusiana. Mungkin Bu Nana jadi tahu sebagian aktivitasku selain sebagai guru. Padahal, awal berdirinya perpus Srikandi hanya berharap agar pengelola yang semuanya perempuan tersebut sanggup menumbuhkan budaya baca tulis di sekitar tempat tinggalku. Ketika itu tahun 2005, merintis berdirinya rumah baca juga bukan perkara mudah. Perlu pengorbanan yang tidak sedikit dan perjuangan untuk meraih bintang di langit.

Yang pasti, aku merasa berterima kasih dengan Bu Raihana, karena julukan itu menjadikanku semangat dalam mengabdikan diri kepada masyarakat. Semangat dalam menapaki hari-hari sebagai guru, yang menjadikan generasi muda sebagai tunas bangsa pewaris negeri ini. Sabar dan ikhlas tentu jadi penawar luka ketika benturan dan kerikil-kerikil tajam terhampar di depan mata. Meski puisi tentang Dieng yang pertama kali kutulis tahun 2012 dalam buku perdanaku, yang berjudul,”Bunga Rampai Guru Kehidupan” . Sebagian larik puisi tersebut kuposting hanya sebagai ilustrasi saja, kalau kecintaanku pada Dieng sudah sejak dulu kala. Karena tahun 1990 aku telah melayari “Negeri di Atas Awan” yang lusa akan menjadi poros dunia, kecantikan alam dan budayanya. Tak heran kami berharap Dieng jadi “Paris Van Java”, bahkan ada yang mengkiaskan, “Dieng istananya para dewa, dan menyimpan misteri keajaiban peradaban kuna yang melegenda”. Jadi Srikandi Dieng, kurang tepatlah sebagai julukanku yang belum punya kontribusi apa pun selain sebagai pemuja dan penikmat keindahan gunung, surganya para pendaki. Salam santun Bu Nana, terima kasih telah menginspirasi lahirnya tulisan bentuk kolom ini.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Srikandi Dieng memang top bgt

22 Sep
Balas

Ah, itu hanya julukan bu Nana kok bu, dan aku merasa jauh dari gambaran itu. Tapi senang juga hehe... jadi semangat nulis lagi. Walaupun tidak seaktif dan seproduktif gurusianer yang lain. Apalagi jika dibandingkan dengan ibu dan bu Raihana yang top markotop, wah aku mah nggak ada apa-apanya. Senangnya di sini terjalin persahabatan yang indah. Ok, makasih bu dah singgah dan meninggalkan jejak kometar yang hangat. Salam literasi dari Wonosobo.

22 Sep

Pengen tahu alasan saya memberi julukan "Srikandi Dieng" pada sahabatku bu Eko Hastuti? Pengen tau aja apa pengen tau banget ? Hehehe. Bu Eko, alasanku sudah ada pada tulisan di atas. Betul sekali, karena ibu penggerak perpustakaan "Srikandi" di desa ibu. Saya terkagum-kagum dengan "gawean" ibu akan perpustakaan itu. Plus...puisi tentang "Dieng" selalu bisa meluluh lantakkan sanubariku. Masuuukkk...menyusup ke dalam relung-relung yang paling dalam . Ciyeeee. Sahabatku, Srikandi Dieng. Satu lagi, meskipun ibu tidak "sejawara" srikandinya arjuna, tetapi ibu sering menceritakan tentang olah raga memanah. Sehingga hatiku pun jadi terpanah. Hihihi. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah...Srikandi Dieng.

21 Sep
Balas

Hem.. begitu ya, oke bolehlah haha... Makasih ya bu, julukannya sontak menuntunku harus menuliskan kolom itu. Jadi yang luar bisda tetap njenengan lho, bisa menggerakkan hati, pikiran, dan tangan orang dalam menggoreskan pena. Memang tak salah, gurusianer terpopuler tuh benar-benar bersahabat, merakyat, dan hangat haha.. Makanya, kalau lama ibu nggak muncul pada ribut nyari, ibu teladan literasi di gurusiana apa lagi bersemedi ya? Alhamdulillah, bu Nana dah sehat kembali membuat hati ini berbunga-bunga, jiwaku merona. Ahai.. senangnya.

21 Sep

Bahagianyaaaaa......

21 Sep

Yei... bahagia dong adik manis, tuaan aku lho. Baru tahu kan?

21 Sep

Mosok...sih...? Yo wes.., aku nyeluk njenengan..."mbak" wae laaa...

21 Sep

Mbak ya ra papa, Dhik, ben aku sadhar nek wis tuwa haha.. ning yen bab ngelmu, sliramu luwih mumpuni lho. Rilanana aku ngangsu kawruh bab ngelmu agama, ngelmu kauripan, kawruh alam, lan psykologi sing ngedab-edabi hihi.. ayo bu Nana priksa maksude apa ora? Iki ngetes kemampuan berbahasa Jawa, ning yen angel dingapura, aja dipikir dawa haha.. nuwun.. nuwun kawigatosanipun.

21 Sep

Wow...ternyata ada sejarahnya ya...jadi ikut nimbrung percakapan dua sahabat ini.....tapi julukan itu sangat kereeen Bunda Eko Hastuti...Salam literasi dari tetangga di Kebumen....

21 Sep
Balas

Ya bu Rini Yuliati, nimbrung kebaikan tak apalah. Kita kan bersahabat semua. Sejarah menurut bu Nana tuh yang membuatku bersemangat dan ketularan energi menulisnya. Makasih ya dah singgah mengapresiasi, semoga semakin erat persahabatan kita melalui jembatan literasi. Makasih juga salamnya, dari Kebumen dah sampai Wonosobo hehe..

21 Sep

Iya bun....ternyata asyik juga bersahabat di gurusiana walaupun belum pernah berjumpa...he..he..

21 Sep

Alkhamdulillah bisa masuk juga disini. Bisa nambah ilmu apalagi bertemu dengan orang orang hebat sebagi panitan dan tuntunan. Semoga bisa menjadi Srikandi srikandi berikutnya.... Untuk Bu Eko memang patut dapat julukan itu. Semoga kedepan dapat menjadi inspirasi teman yang lain agar bisa memngasah membuka diri untuk berkarya

26 Sep
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali