Eko Hastuti

Menulis bagiku menjadi salah satu sisi kehidupan yang penting. Ibarat orang hidup yang harus bernafas, menulis sebagai oksigen yang memberi kesegaran otak dan h...

Selengkapnya
Menulis Profil

Menulis Profil

Profil berikut sebagai contoh pembelajaran ekskul Jurnalistik SMPN 1 Wonosobo, Rabu, 10 Oktober 2018. Peserta sebanyak 19 siswa pun semangat menulis profil teman sesama peserta jurnal. Pada kegiatan perdana peserta sudah mengisi form profil jadi tinggal mengembangkan saja jadi teks profil. Bila masih dirasa kurang datanya, siswa bisa melakukan wawancara tambahan agar profil jadi lebih lengkap dan detail.

Begitu semangat peserta jurnal kali ini hingga dalam rentang kurang dari dua jam, profil pun sudah jadi. Secara bergantian, peserta membaca profil yang sudah selesai ditulis di depan kelas. Agar peserta tidak kesulitan saat menyusun profil, pembimbing membagikan contoh profil via WA grup jurnalistik. Kebetulan profil tersebut adalah salah satu pembimbing Jurnalistik, Eko Hastuti.

"Sosok Kartini Zaman Now, Eko Hastuti, Guru Peduli Literasi"

Setiap Rabu siang, usai jam sekolah berakhir, belasan siswa akan berkumpul di kelas 8D untuk mengikuti ekstra Jurnalistik. Namun sebelum mereka naik ke ruangan di lantai dua itu, peserta ekstra akan mencari guru pembimbingnya, Bu Eko, nama lengkapnya Dra Eko Hastuti MM. Di meja guru itu biasanya sudah disiapkan satu bendel dokumen untuk keperluan ekstra yang diadakan sepekan sekali itu. Setelah menyerahkan map-map itu, bu Eko biasanya izin sebentar untuk salat maupun mempersiapkan diri, maklum dalam sehari, bu Eko kadang mengajar di dua lokal yang jaraknya sekitar 800 meter itu.

"Kebetulan kalau hari Rabu saya juga mengajar di Selatan, jadi kadang bolak-balik,” tutur guru pengampu Bahasa Jawa itu.

Usianya kini menginjak 52 tahun, namun kesibukan dan semangatnya tak kalah dari siswa-siswinya baik di kelas maupun di ekstra Jurnalistik itu. Mengingat hampir tiap hari bu Eko jalan kaki untuk mengajar dari satu lokal ke lainnya. Bahkan untuk transportasi harian dari rumah ke sekolah, guru kelahiran Magelang itu memilih naik angkot. Bahkan tak jarang jumlah siswa yang mengikuti kelas Jurnalistik surut di sepanjang proses pembelajaran.

“Siswa jurnal dari tahun ke tahun cukup berkembang, meski jumlahnya naik turun. Tapi tak jarang yang prestasinya maupun karyanya sudah banyak dikenal. Mereka juga kerap bersaing dengan siswa SMA di satu lomba dan masih bisa unggul. Yang sudah SMA maupun kuliah kebetulan masih banyak yang berkecimpung di Jurnalistik,” ungkap sosok yang tulisannya juga kerap muncul di kolom Gagasan Wonosobo Ekspres itu.

Esay, Puisi, Cerpen, Geguritan, Cerkak, dan karya-karyanya sudah menghiasi banyak media cetak dan jurnal pendidikan. Begitu pula antologi puisi, geguritan, hingga karya-karya terbitan komunitas juga dijejali karyanya. Seakan tak cukup, bu Eko juga memenangkan berbagai piala hingga piagam juara di banyak lomba menulis. Salah satu yang terbaru ialah merebut Juara pertama di lomba penulisan artikel yang diadakan Perpustakaan Daerah Wonosobo (2107). Semangatnya dalam menulis dan menghidupkan literasi lewat kelas jurnalistik juga terpotret dari semangat para siswanya untuk belajar menulis hingga mengikuti lomba.

“kami arahkan siswa Jurnal untuk belajar meliput di lapangan juga selain belajar teori. Mereka juga dibebaskan untuk menggeluti bidang yang disukai, seperti fotografi, penulisan fiksi, hingga esay. Semua juga belajar materi reportase dan kepenulisan,” tuturnya.

Meskipun kesibukannya sudah sangat padat, bu Eko juga masih menyisakan waktu untuk mengurus perpustakaan Srikandi, perpus desa yang dirintisnya di perumahan Manggisan Asri, kelurahan Mudal. Tepat di April tahun 2005 perpustakaan itu didirikan bahkan dengan secara swadaya diinisiasi oleh Bu Eko bersama rekan-rekannya. Latar belakang PHK masal yang menghantam warga di sekitarnya menjadikan bu Eko memiliki ide untuk menggugah masyarakat agar memiliki keahlian tambahan.

Koleksi bukunya juga diawali dengan sumbangan dari rekan guru dan warga sekitar. Kini di usianya ke 13, perpustakaan itu telah memiliki ribuan koleksi buku. Bahkan perpus mungil itu juga menggerakkan perekonomian setempat, hingga mendapat prestasi di tingkat Provinsi.

“Awalnya untuk menjaring minat baca kami membagikan buku pada tiap acara rutin ibu-ibu maupun RT-RW seperti pertemuan PKK, dan akhirnya menjadi seperti ini. Berbagai produk makanan dan kerjainan juga lahir dari buku-buku di sini. Di tahun 2006, perpustakaan Srikandi mendapatkan predikat sebagai perpustakaan desa terbaik di tingkat Provinsi. Sejak saat itu banyak sekali kunjungan dari berbagai instansi. Termasuk perpustakaan dari luar daerah maupun mahasiswa yang hendak melakukan penelitian. Kegiatan kumpul rutin juga masih banyak diikuti ibu-ibu dan anak-anak di lingkungan perumahan dan satu RW ini,” jelasnya.

Bu Eko mengawali pendidikan tingginya dari sekolah guru di SPG Muhammadiyah 1 Muntilan, Magelang dan lulus pada 1984. Pendidikan sarjananya diselesaikan di IKIP Yogyakarta atau saat ini lebih dikenal UNY dan lulus tahun 1989. Untuk jenjang S2, ditamatkan pada 2011 dengan konsentrasi Magister Managemen di Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) Purwokerto. Sedangkan di bidang sosial kemasyarakatan, bu Eko terlibat di berbagai komunitas, termasuk di kepengurusan MGMP Bahasa Jawa kabupaten Wonosobo beberapa periode, Menjadi Ketua II Dharma Wanita Kantor BPN Wonosobo dan anggota Komunitas Sastra Bimalukar yang sudah menerbitkan beberapa antologi termasuk ‘Cukupkan Dengan Cinta’sedangkan tulisan pribadinya juga ada di buku Bunga Rampai“ Guru Kehidupan”

“Saya juga masih menulis di blog dan di media Sosial. selain untuk menyimpan foto, saya juga tuliskan reportasenya. Kebetulan beberapa rekan guru juga kesetrum ikut gemar menulis dan kita ajak untuk kirimkan ke media, seperti gagasan di Wonosobo Ekspres, selain juga media online dan juga yang berbahasa Jawa,” tutur pecinta tanaman hias itu.

Terbitan berbahasa Jawa seperti Majalah Djoko Lodhang dan Panjebar Semangat tak luput dari karya-karyanya. Bahkan kini banyak siswa yang mengitkuti jejaknya gemar menulis Geguritan. Berbagai produk dari ekstra Jurnalistik juga masuk ke berabgai Koran selain juga diterbitkan mandiri berupa majalah sekolah, Mading Sekolah, Buletin, hingga mading di Alun-alun kota. (Erwin Abdillah, Wonosobo)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Woh luar biasa. Jadi pengen buat seperti itu. Namun sayang ekstra kurikuler sastra kurang diminati. Salam kenal Bu . boleh minta nomor WA. Jadi pengen berguru dengan penjenengan. Sukses selalu Bu

11 Oct
Balas

Jurnalistik bukan sekedar sastra Bu Budiyanti, lebih ke bidang kewartawanan. Anak dilatih meliput kegiatan atau peristiwa apa pun yang ada dan terjadi di sekolah. Misalnya ada siswa mengikuti lomba dan menang, dia bisa dibuat berita dan profil tokoh. Memang sih pada perkembang selanjutnya siswa diajak menulis jenis-jenis lainnya, seperti tips, artikel, sinopsis, resensi, cerpen, puisi, pantun, dan lainnya. Bisa dicoba Bu, di antara siswa pasti ada yang minat karena syaratnya hanya satu, yakni gemar membaca. Ini nomerku bu, barangkali diperlukan: 085290710004.

11 Oct

Mantaffff, mbak. kalau aku yang disuruh bikin profil, kutulis kayak gini : Eko Hastuti, sang Srikandi Dieng Pejuang Literasi Bagi Anak Negeri. Gimana, mbak ? Cetarrrrr kan..., mbak. Salam sehat dan sukses selalu buat mbakku. Barakallah, Srikandi Dieng. Ojo sering-sering ngilang tho...mbak. Kangen...hehehe.

11 Oct
Balas

Makasih, Dindaku yang baik. Haha... pangil bu Nana dengan sebutan dinda, rasanya aneh ya. Kalau panggik Dik, kok nggak pas juga. Soalnya kemampuan nulisku tak seberapa jika dibandingkan bu Nana yang senior. Wah, kalau bu Nana yang mbuat profilku, aku bisa klepek-klepek ta. Lha, nyanjungnya ketinggian sih.. Oh ya, maaf ya, aku nggak bermaksud ngilang hehe.. cuma suka terserang penyakit menahun "malas nulis" saja wkwk... padahal sebetulnya kangen juga dengan sahabat-sahabat baik si penggores pena di gurusiana ini hihi... makasih doa dan salamnya, ini yang paling ngangeni dari bu Nana.

11 Oct

Kereeeen abis bu. Salam kenal dan barakallah

11 Oct
Balas

Hehe.. itu profil yang nulis temanku, Erwin Abdillah, pembimbing Jurnalistik sekolahku. Aku hanya mengulas saja bu tapi makasih ya dah singgah dan meninggalkan jejak membacara.

11 Oct

Srikandi yang menginspirasi...Barakallah Bun...

11 Oct
Balas

Aha, bu Rini ikut nyebut aku "Srikandi" juga, makasih ya.. Kita semua srikandi lho, dengan tulisan bisa menginspirasi banyak orang. Barakallah juga bu Rini yang baik. Salam sehat dan sukses ya.

11 Oct

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali