Eko Hastuti

Menulis bagiku menjadi salah satu sisi kehidupan yang penting. Ibarat orang hidup yang harus bernafas, menulis sebagai oksigen yang memberi kesegaran otak dan h...

Selengkapnya
Bermekaran dalam Perbedaan

Bermekaran dalam Perbedaan

Di sudut taman, tumbuh aneka rumpun bunga yang bermekaran. Beda bentuknya, beda pula warnanya. Ada yang menebarkan wanginya, ada yang tak beraroma. Meski begitu, semua punya nilai keindahan tersendiri tanpa mengurangi hak lainnya.

Anggrek Putih tak pernah merasa paling suci. Anggrek Merah tak pernah mengaku paling berani. Anggrek Kuning juga tidak tebarkan kilau emasnya, karena dapat menyilaukan mata. Anggrek Unggu menjadi peramu warna. Agar yang merah tidak membara. Yang putih tidak berduka. Yang kuning tak kehilangan cahaya.

Agar Anggrek dengan panca warna itu, terus berpadu, menyatu, dan mencipta padu padan warna baru. Warna yang indah seperti pelangi. Degradasi warna justru jadi kompilasi makna betapa berbeda itu indah. Betapa, bersatu dalam perbedaan mendapat berkah jika amanah.

Mari belajar dari bunga Anggrek ini. Ketika sebuah keberanian dilandasi dengan kesucian hati tentu akan memperjuangkan keadilan atau untuk menegakkan kebenaran. Sebaliknya, apabila keberanian tanpa didasari jiwa juang yang bersih, hanya akan menjadi bara yang penuh amarah. Bila tak dikekang bisa membela yang salah, sampai mengalirkan darah merah.

Yang terjadi bukan perjuangan tetapi pertikaian. Jadi keberanian harus dimanfaatkan sepenuhnya dalam memberantas kemungkaran dilandasi kesucian hati demi kedamaian hidup bersama. Jangan sampai kita lemah apalagi pasrah dengan kemungkaran, yakinlah bahwa kebenaran kalau diperjuangkan akan meraih kemenangan.

Ungu dibanding dengan warna merah dan putih terlihat lebih syahdu. Bisa meredam amarah pun sanggup membangkitkan gairah. Karena itu ungu di antara merah dan putih, menjadikan nuansa yang melankolis. Andai kehidupan ini dibangun dari unsur keberanian, kesucian, kedamaian, dan toleransi pasti nuansa hidup jadi indah. Seperti rona pagi, bertaburan semburat kuning keemasan. Andai berpadu dengan kilau mentari, warna emas itu menawarkan kebahagiaan, keriangan, dan harapan. Bukankah siluet pagi selalu dicari hingga mendaki bukit yang tinggi? Bukankah kilau senja selalu menawarkan panorama alam yang mempesona? Hingga orang-orang sampai berkelana ke pantai-pantai, berburu siluet senja yang aduhai?

Alam sesungguhnya telah mengajarkan kehidupan yang damai dari keragaman. Masihkah kita terus bercerai-berai hanya karena berbeda? Karena tak sama dan tak sepaham? Mari kita renungkan, kawan.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali