Eko Hastuti

Menulis bagiku menjadi salah satu sisi kehidupan yang penting. Ibarat orang hidup yang harus bernafas, menulis sebagai oksigen yang memberi kesegaran otak dan h...

Selengkapnya

Analisis Tajam dan Berbobot

Judul tulisan ini saya kutip dari komentar Pak Ahmad Syaihu pada postingan Pak Edi tentang aktivitas literasiku di http://ekohastuti.gurusiana.id/, yang diulas Pak Edi Prasetyo di http://ediprasetyo.gurusiana.id/, dengan judul, “Bak Dinamit, Eko Hastuti Langsung Meledak”. Mengapa komentar Pak Syaihu saya jadikan judul? Karena saya setuju dan cocok dengan pendapat tersebut. Bahkan saya langsung terinspirasi untuk menulis dalam bentuk opini ini.

Memang benar, tulisan yang berbobot tidak ditulis asal-asalan saja. Banyak faktor yang harus dipenuhi agar ulasannya tajam dan dipercaya kebenarannya. Perlu data-data pendukung yang diperoleh melalui study pustaka, analisis data, atau kalau perlu dengan wawancara. Ulasan tentang aktivitas seseorang sekilas mirip tulisan bentuk profil. Pada bagian awal tentu mendeskripsikan subyek tulisan, mulai dari nama, riwayat pendidikan, pekerjaan, alamat, umur, hobi, karakter, prestasi dan lainnya. Di bagian ini penulis juga dapat mengangkat kelebihan atau keunggulan subyek tersebut untuk menarik perhatian pembaca. Baru pada bagian tubuh tulisan kita fokuskan pada kiprah subyek yang akan ditonjolkan. Kalau itu berupa aktivitas literasi, bisa dipotret produktivitasnya dalam menulis. Jadi sebelum menyimpulkan subyek itu seperti apa, dikumpulkan dulu data-data tulisan. Kalau data tulisan sudah terkumpul tinggal dibaca, diambil poin-poin yang diperlukan, dihitung, dinalisis, dan akhirnya dibuat kesimpulan dalam bentuk ulasan. Tulisan bentuk ulasan semacam ini hanya dapat dihasilkan oleh penulis yang sudah memiliki kredibilitas tinggi. Karena butuh kecermatan, ketelitian, dan obyektivitas ketika menganalisis data dan membuat kesimpulan. Biasanya untuk menambah referensi, penulis akan berselancar di internet karena seseorang yang aktif menulis biasanya tulisannya tersebar di mana-mana. Dengan sekali meng-klik nama subyek tersebut di goggle, akan muncul semua jejak karyanya. Apalagi bila yang bersangkutan memiliki blog personal, aktif di medsos seperti facebook, Twitter, instagram, dan lainnya yang mudah ditemukan tulisan-tulisannya.

Pada tahap berikutnya tak kalah pelik. Karena pengulas harus membaca satu-persatu untuk dapat memberikan kesimpulan secara tepat. Tidak lupa ulasan diakhiri dengan kalimat motivasi kepada pembaca agar terinspirasi untuk menulis. Tentu saja ini memerlukan waktu yang tidak sedikit. Maka tak heran kalau saya salut dan kagum dengan kecepatan Pak Edi mengingat baru tadi malam memposting ulasan Pak Sopyan, pagi ini menerbitkan ulasan Eko Hastuti. Satu hal lagi yang patut dicatat, ketika tulisan mendapat komentar bernada memuji atau menyajung, Pak Edi mementahkan dengan merendah. Contohnya waktu dikomentari Pak Syaihu, “Subhanallah, analisis yang tajam dan berbobot”. Apa tanggapan Pak Edi? “Mungkin masih banyak yang terlewatkan Pak. Tapi tak mengapa”, tulis beliau. Demikian juga saat aku menanggapi begini, “Terima kasih pak Edi telah membuat ulasan tentang aktivitas literasiku di gurusiana. Luar biasa dalam waktu yang singkat bapak berhasil menyuguhkan tulisan dengan analisis yang tajam dan berbobot seperti kata Syaihu. Itu pun tanpa wawancara dengan yang bersangkutan.

Alhamdulillah, di gurusiana ini ada gurusianer yang peduli dan selalu mengapresiasi, memotivasi, juga mengkritisi gurusianer pemula. Beliau antara lain, pak Edi P, pak Syaihu, bu Raihana R, bu Sugiastuti, bapak Bonari N, dan lainnya. Tulisan ini menambah pamor pak Edi selain sebagai gurusianer populer juga motivator dan inspirator literasi. Keren... keren... keren...”. Beliau menjawab datar, “Tulisan ini, selain utk menunaikan janji saya kemarin, juga utk memotivasi teman2 sesama gurusianer, Bu. Semoga bisa dipetik manfaatnya.”

Itu artinya, motivasi menulis di gurusiana ini tidak lain untuk berbagi kebaikan kepada sesame gurusianer. Semoga opini Pak Edi tentang Pak Sopyan dan Bu Eko Hastuti tersebut dapat memotivasi dan menginspirasi kita semua. Mari kita saling mengapresiasi dengan memberikan komentar atau ulasan agar literasi guru di ruang ini semakin produktif, kreatif, inovatif, dan rekreatif. Kepada gurusianer yang baru saja bergabung, mohon maaf kalau komentar saya terlalu tajam dan kurang mengenakkan. Percayalah, itu bentuk kasih sayang demi perbaikan karya ke depan. Salam literasi semuanya, mari terus berkarya!

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Sebagai penulis pemula, Izinkan saya berguru pada guru2 hebat di sini

09 Jul
Balas

Pak Murman jangan begitu dong. Saya yang belajar dengan bapak, karena pelatihan sagusabu gairah menulisku jadi menggebu. Makasih ya pak ilmu dan bimbingannya. Selamat, bapak sukses membakar adrenalin menulis guru-guru berbagai wilayah di Indonesia.

09 Jul

Assalammu'allaikum. Bagaimana kabarnya pak? Semoga baik-baik saja, salam sehat dan sukses terus sagusabu-nya nggih.

09 Jul

Saya akui, masih ada yg terlewat Bu. Antara lain, aktivitas Ibu di perpustakaan desa hanya saya sebut secara umum saja sbg salah seorang penggerak literasi di kotanya.

09 Jul
Balas

Hehe.. nggih pak, boten napa-napa. Sampun sae sanget kok, matur nuwun. Dengan dibuatkan ulasan seperti itu, saya jadi tambah semangat menulis pak. Walaupun sebenarnya memang hampir setiap hari menulis. Soalnya saya juga pembimbing ekskul jurnalistik, otomatis saya harus bisa memberikan teladan. Maka dari itu, saya harus bisa menulis jenis apa pun. Bukankah mengajak orang untuk membaca dan menulis itu diawali dari diri sendiri, keluarga, baru merambah ke masyarakat. Kalau di sekolah saya terus memotivasi siswa khususnya yang saya bimbing di ekskul Jurnalistik dan yang saya ampu. Sebagai wali kelas, saya juga mengajak anak untuk menulis lalu diterbitkan di mading atau dibuat buletin. Beberapa guru juga sudah termotivasi untuk menulis, alhamdulillah. Maaf pak, malah jadi curhat hehe..

09 Jul

Ibarat padi semakin berisi semakin merunduk, betul begitu bu Eko?

09 Jul
Balas

Nggih pak, leres. Saya harus banyak berguru dengan gurusianer senior dan populer yang tetap merunduk meski ilmu, pengalaman, dan keterampilan menulisnya sangat tinggi. Yang lebih keren lagi, beliau-beliau tersebut masih peduli, berempati, dan terus memotivasi.

09 Jul

Selamat...bu. Ulasan pak kepala sekolah sungguh luar biasa. Dinamit bisa meledak karena memiliki "potensi" didalamnya. Potensi ibu didalam berliterasi tak bisa disangsikan lagi. Demikian kecintaan ibu terhadap dunia literasi di negeri kita ini ibu buktikan dengan perpustakaan yang ibu dirikan di tempat ibu. Luar biasa. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah...ibu.

09 Jul
Balas

Ya bu, terima kasih. Hanya pikiran dan tenaga yang bisa saya sumbangkan untuk masyarakat di sekitarku. Juga untuk rekan-rekan gurusiana, tulisanku yang tidak seberapa semoga bermanfaat. Semoga bu Nana diberi kesehatan dan kesempatan hingga dapat menginjungi dan meninggalkan komentar kepada pembaca gurusiana. Amin YRA.

09 Jul
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali